Gagasan Polipangkep Antar Kopi Mamasa Raih MURI dan Sertifikat IG

Berita113 views

POLIPANGKEP.AC.ID, Pangkep–  Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke 81 Republik Indonesia (RI) Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulaun (Polipangkep) menorehkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan Sertifikat Indikasi Geografis Kopi Arabika Mamasa dan Kopi Robusta Mamasa, pengumuman perolehan Sertifikat Indikasi Geografis berlangsung di Lapangan Kondosapata, Kabupaten Mamasa, pada 17 Agustus 2026.

Capaian tersebut tidak terlepas dari pendampingan yang dilakukan Polipangkep secara berkelanjutan sejak 2021, melalui kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Pemerintah Kabupaten Mamasa, serta para petani dan pelaku usaha kopi.

Pendampingan Polipangkep dalam pengembangan komoditas kopi Mamasa diketuai oleh Dr. Reta, S.TP., M.Si., bersama anggota tim Dr. Ir. Zaimar, M.T. dan Muhammad Nur, S.Pd., S.T. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga diarahkan pada penguatan kapasitas petani, standardisasi produk, kelembagaan, hingga perlindungan hukum terhadap komoditas kopi khas Mamasa.

Dr. Reta menjelaskan, pendampingan yang dilakukan Polipangkep merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Bahkan, sejumlah usaha pengolahan kopi di Mamasa juga telah menjadi lokasi pemagangan mahasiswa Polipangkep.

“Pendampingan ini tidak berhenti pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. UKM pengolah kopi di Mamasa juga telah menjadi salah satu lokasi pemagangan mahasiswa Polipangkep,” ungkapnya.

Pada tahap awal, pendampingan berhasil mendorong lahirnya dokumen Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi dua kelompok usaha kopi. Proses tersebut kemudian berkembang pada upaya memberikan identitas, perlindungan hukum, serta pengakuan yang lebih kuat terhadap Kopi Mamasa agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional melalui sertifikasi Indikasi Geografis.

Gagasan tersebut selanjutnya didiskusikan bersama Pemerintah Kabupaten Mamasa yang saat itu mendapat dukungan penuh dari Bupati Mamasa, Welem Sambolangi, S.E., M.M. Pemerintah daerah kemudian menyetujui penyusunan dokumen deskripsi sebagai salah satu persyaratan utama dalam proses pengajuan Indikasi Geografis.

Sebelum proses penyusunan dokumen dilakukan, Polipangkep bersama Pemerintah Kabupaten Mamasa terlebih dahulu melaksanakan penyamaan persepsi yang kemudian dituangkan melalui Memorandum of Understanding (MoU) dan dilanjutkan dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Polipangkep melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPPM) dengan Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa. Kerja sama tersebut dilaksanakan pada Februari 2026 lalu.

Terbitnya dua Sertifikat Indikasi Geografis tersebut menjadi tonggak penting dalam memberikan identitas sekaligus perlindungan hukum terhadap Kopi Arabika Mamasa dan Kopi Robusta Mamasa. Sertifikasi ini juga membuka peluang yang lebih luas bagi pengembangan, promosi, dan pemasaran kopi Mamasa di tingkat nasional hingga internasional.

Capaian tersebut kemudian berkembang menjadi momentum untuk semakin memperkuat branding Kopi Arabika dan Kopi Robusta Mamasa. Dalam audiensi bersama Bupati Mamasa, muncul gagasan untuk menggelar kegiatan minum kopi secara massal pada momentum peringatan HUT ke-81 RI dengan menggunakan suke, wadah tradisional masyarakat Mamasa.

Kegiatan yang awalnya diarahkan untuk memecahkan rekor MURI tersebut justru menghasilkan capaian yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penilaian tim MURI yang hadir langsung di lokasi, kegiatan minum kopi menggunakan suke pada 17 Agustus 2026 berhasil mencatatkan rekor MURI tingkat dunia.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari Rangkaian capaian tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha dapat menghasilkan dampak nyata bagi penguatan komoditas unggulan daerah. Pendampingan Polipangkep yang dimulai dari peningkatan mutu kopi, penyusunan standar, penguatan kelembagaan petani, hingga fasilitasi perlindungan Indikasi Geografis, kini mengantarkan Kopi Arabika Mamasa dan Kopi Robusta Mamasa memiliki identitas serta perlindungan hukum yang lebih kuat.

Dr. Muhammad Kadir, S.P., M.P selaku Kepala PPPM Polipangkep mengatakan bahwa keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan peran Penelitian pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan potensi kearifan lokal untuk mendorong kemajuan komoditas unggulan daerah, terus dilakukan oleh Polipangkep.

News Feed