POLIPANGKEP.AC.ID, PANGKEP– Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep), memanfaatkan waktu jeda pelatihan China–Indonesia General Artificial Intelligence (AI) Education Joint Development Project Teacher Training and Certification dengan mengunjungi Liuzhou Industrial Museum di Kota Liuzhou, Guangxi Zhuang Autonomous Region, China.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual selama mengikuti program pelatihan AI. Selain memperdalam pengetahuan mengenai perkembangan kecerdasan buatan, kunjungan ke museum industri memberikan perspektif mengenai perjalanan panjang industrialisasi, perkembangan teknologi, inovasi, pendidikan, hingga transformasi ekonomi di China.
Liuzhou sendiri dikenal sebagai salah satu kota industri penting di Guangxi. Perjalanan perkembangan industrinya terdokumentasi melalui Liuzhou Industrial Museum yang menghadirkan berbagai koleksi dan artefak industri dari masa ke masa.
Berdasarkan informasi museum, Industrial History Hall memiliki area pameran lebih dari 12.000 meter persegi dengan koleksi lebih dari 6.000 benda dan peralatan industri yang digunakan maupun diproduksi di Liuzhou sejak 1902. Koleksi tersebut memperlihatkan perkembangan teknologi dari era mekanisasi hingga industri modern.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian dalam kunjungan tersebut adalah Crocodile Shearing Machine produksi tahun 1948 yang digunakan untuk pemotongan profil baja dalam proses produksi berbagai mesin pertanian.
Berbagai koleksi yang ditampilkan juga menggambarkan perjalanan industri China melalui sejumlah fase penting, termasuk kebangkitan industri modern dan perkembangan industri pada masa awal pembangunan ekonomi nasional.
Prof. Dr. Mauli Kasmi, S.Pi., M.Si., selaku Direktur Polipangkep menyampaikan bahwa perjalanan sejarah industri yang ditampilkan di museum memiliki relevansi kuat dengan perkembangan Artificial Intelligence yang saat ini tengah dipelajari dalam program pelatihan.
Menurutnya, AI tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari evolusi panjang teknologi manusia, mulai dari mekanisasi, industrialisasi, otomatisasi, digitalisasi, hingga perkembangan teknologi berbasis data dan kecerdasan buatan.
“Kunjungan ke Liuzhou Industrial Museum memberikan pembelajaran bahwa kemajuan teknologi merupakan sebuah proses panjang. Mesin-mesin yang pada masanya merupakan teknologi mutakhir kini menjadi bagian dari sejarah. Demikian pula Artificial Intelligence yang kita pelajari hari ini harus kita tempatkan sebagai instrumen untuk mempersiapkan pendidikan vokasi menghadapi perubahan industri masa depan,” ujarnya
Ia menambahkan, transformasi teknologi tidak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat dan teknologi modern. Dibutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan pendidikan, sumber daya manusia, penelitian terapan, industri, inovasi, dan kebijakan pembangunan.
Perspektif tersebut dinilai sangat relevan dengan pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia, termasuk di Polipangkep yang memiliki bidang keilmuan strategis pada sektor pertanian, perikanan, agribisnis, teknologi pangan, dan agro-maritim.
Pengalaman mengikuti pelatihan AI dan kunjungan ke Liuzhou Industrial Museum menjadi referensi bagi Polipangkep dalam memperkuat transformasi pembelajaran berbasis industri.
Pendidikan vokasi ke depan perlu semakin mengintegrasikan kurikulum dengan Teaching Factory (TEFA), sertifikasi kompetensi, magang industri, penelitian terapan, kewirausahaan, serta pemanfaatan AI dan teknologi digital.
Dalam konteks Polipangkep, pemanfaatan AI memiliki peluang besar untuk mendukung pengembangan berbagai bidang, seperti pemantauan kualitas air, prediksi produksi, identifikasi penyakit ikan, otomatisasi pemberian pakan, analisis rantai pasok, pemasaran digital, analisis pasar, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Karena itu, pembelajaran AI tidak hanya diarahkan pada kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga pada pemanfaatannya sebagai bagian dari proses pembelajaran, penelitian terapan, TEFA, tata kelola institusi, serta penyelesaian persoalan nyata di dunia usaha dan dunia industri.
“Kita ingin AI tidak berhenti sebagai teknologi yang digunakan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan vokasi. Mahasiswa dan dosen harus mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan dunia industri dan masyarakat,” lanjutnya.
Selain memberikan gambaran mengenai perkembangan teknologi, Liuzhou Industrial Museum juga menunjukkan pentingnya menjaga sejarah industri sebagai sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.



Hal tersebut menjadi inspirasi bagi Polipangkep untuk terus memperkuat dokumentasi perjalanan inovasi institusi, mulai dari hasil penelitian terapan, produk Teaching Factory, prototipe mahasiswa, teknologi yang dikembangkan dosen, kerja sama industri, hingga inovasi yang memberikan dampak kepada masyarakat.
Ke depan, gagasan pengembangan Innovation Gallery atau Vocational Technology Museum di lingkungan Polipangkep dapat menjadi salah satu ruang untuk mendokumentasikan perjalanan inovasi dan teknologi pertanian, perikanan, serta agro-maritim yang dikembangkan sivitas akademika.
Kunjungan tersebut sekaligus menegaskan bahwa proses pembelajaran dalam program internasional tidak hanya berlangsung di ruang pelatihan. Lingkungan, sejarah, teknologi, dan pengalaman lapangan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperluas perspektif dalam mengembangkan pendidikan vokasi.
Dari mesin mekanis yang menjadi bagian dari sejarah industri hingga AI yang menjadi teknologi masa kini, perkembangan teknologi terus bergerak. Tantangannya adalah bagaimana perguruan tinggi vokasi mampu menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menciptakan inovasi.
Bagi Polipangkep, kunjungan Direktur ke Liuzhou Industrial Museum menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan global dan membawa pulang gagasan untuk memperkuat transformasi pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan AI dan kebutuhan industri masa depan.

























